Nama Indonesia kembali harum di kancah internasional. Dalam ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) internasional ke-34 Republik Islam Iran, Zulaikha asal Provinsi Kepri meraih juara 2 golongan tilawah pelajar putri.

Remaja berusia 16 tahun ini tak dapat membendung kebahagiaan, sepulangnya dari Iran ke Tanah Air. Matanya berkaca-kaca saat keluar dari pintu kedatangan Bandara Hang Nadim, Sabtu (29/4) lalu. Zulaikha disambut dengan sekuntum bunga satu per satu dari keluarga, guru serta rekan yang menyambutnya.

Seketika hampir mendekati rumahnya di Bengkong Permai, Zulaikha kembali menerima sambutan nan meriah. “Kenapa ada acara seperti ini segala ummi?,” tanya Zulaikha kepada sang Ibu, hingga ia minitikkan air mata.

Ia tak menyangka akan diarak dengan iring-iringan shalawat dan kompang dari ibu-ibu pengajian setempat. “Terimakasih ummi, abi,” ucapnya terisak-isak.

Putri pasangan Sulaiman dan Maryama tersebut baru saja mengikuti ajang MTQ yang belum pernah terbayangkan olehnya. Zulaikha satu dari 10 peserta yang dikirim kedutaan untuk mewakili Indonesia di MTQ internasional ke 34 Republik Islam Iran.

“Tiba-tiba saja dapat telepon disuruh ke Jakarta untuk ikut lomba di Iran. Terkejut,” kata siswi kelas X Madrasah Aliyah Quran Centre Sekupang ini.

Sehari setelah menerima panggilan itu, (20/4) Zulaikha berangkat ke Jakarta. Dari Kepri ia tak sendiri melainkan bersama Andika Pangestu. Secara kebetulan untuk golongan tilawah pelajar putri dan putra, keduanya diwakili dari Kepri membawa nama Indonesia.

“Tandingnya tanggal 24 (April), pengumumannya di malam penutupan tanggal 26,” sebut Zulaikha yang akrab dengan sapaan Zula.

Di golongannya, ia melawan puluhan peserta dari berbagai negara. “Gak ingat berapa peserta, ada sekitar 50an mungkin,” kenangnya.

Ia menceritakan, sepanjang perjalanannya ke ‘negeri para Mullah’ itu, dihantui rasa was-was. Kabar yang mendadak membuatnya kurang persiapan. Sistem lomba yang diterapkan pun memacu Zulaikha untuk percaya diri.

“Tidak tahu akan baca ayat apa karena cabut undian. Di undian itu tertulis ayatnya. Zula dapat surat Al-Fathir ayat 15 sampai 26,” jelasnya.

Sempat tak meyakini akan penampilannya saat itu. “Gak berani berharap, yang penting sudah pernah mencoba,” pikirnya kala itu.

Hingga di malam pengumuman pemenang, nama Zulaikha keluar sebagai juara 2. Ia memenuhi penilaian terbaik juri diantaranya dari segi wakaf (tajwid) dan lagu. Orangtuanya yang menanti kabar juga tak kalah deg-degan. Terutama sang ummi. Pandangannya tak lepas dari ponsel. Sesekeli ponselnya berdering, mengharapkan panggilan dari putrinya.

“Jam 22.00 WIB baru dapat kabar. Alhamdulillah bisa dapat juara juga,” ungkap Maryama bangga, mengingat posisi pertama jatuh pada peserta dari tuan rumah.

Sedari kecil, Zula memang gemar mengaji. Kata ibunya, sejak umur lima tahun Zula sudah lancar baca Alquran. Menginjak kelas I SD, ia mulai mengikuti lomba. Hasilnya tak pernah mengecewakan. Juara 1, 2, dan 3, bergantian mengisi kemenangan putri sulung Sulaiman dan Maryama ini.

Prestasi yang diraih diantaranya, juara 1 tartil tingkat Kota, juara 1 tilawah TPA festival anak saleh Indonesia (FASI) Batam, juara 1 MTQ Nasional di Batam 2014, dan juara 1 MTQ Nasional di Lombok 2016. Kakak dari dua adik wanitanya ini mengaku, kepiawaiannya dalam mengaji berkat dorongan kuat dari sang Ibu.

“Dulu tidak pernah berani ikut lomba ngaji, tapi dimarahin Ummi jadi terpaksa ikut. Sekarang malah jadi hobi,” tuturnya yang bercita-cita jadi pengajar, mengikuti jejak Ayah dan Ibunya.

Selain prestasi yang diraih Zula dalam mengaji, ia juga handal di akademik. Juara 1 kerap tertulis di lapor sekolahnya. Ia yang berada di lingkungan sekolah Islami sekaligus tinggal di asrama Quran Centre, semakin mantap mengasah bakat dan meraih pendidikan. Tidak ketinggalan, ia juga aktif di OSIS dan ektrakurikuler Pramuka.

Kini, Zulaikha, wanita kelahiran Batam 4 September 2000 sedang mempersiapkan diri untuk kembali mengikuti STQ tingkat provinsi. “Semoga terus meraih kemenangan,” tutupnya. ***

 
FEBBY ANGGIETA PRATIWI, Batam

Komentar

komentar