Bagaimana sih rasanya berjalan, melompat hingga bergelantungan di dalam stasiun ruang angkasa sebagai manusia setengah robot? Pengalaman itu bisa dirasakan langsung ketika bermain game buatan tiga pelajar SMAN 1 Batam ini. Mereka juga berhasil menjuarai Olimpiade Game Tingkat Nasional, beberapa waktu lalu.

Batam kembali menorehkan prestasi di ajang nasional. Terpilihnya ketiga pelajar SMAN 1 Batam dalam ajang Multimedia Game dan Event (MAGE) 2017 ini ikut memberikan angin segar bagi perkembangan game di kota industri ini. Batas dunia virtual dan nyata bisa ditembus oleh teknologi Virtual Reality (VR).

VR sendiri merupakan teknologi yang membuat penggunanya dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer atau perangkat lainnya.

Tepat 1993, sebenarnya teknologi ini sudah ditemukan oleh perusahaan game asal Jepang, Sega. Salah satu produknya adalah Sega VR-1 yang dilengkapi dengan sensor gerak kepala dan 3D polygon graphics (gambar 3D) dalam stereoscopic 3D (teknik visualisasi).

Perkembangan VR sendiri terus meningkat dengan hadirnya Samsung Gear VR yang memberikan sensasi berbeda saat bermain game. Kali ini, Elcity yang beranggotakan pelajar SMAN 1 Batam, Muhammad Roychan Meliaz, Dimas Ardyaridatama Rayhan dan Andi Renaldy Noviaz Musyatillah mengembangkan game smartphone yang dinamai mereka dengan Artificial.

Game bergenre first person 3D puzzle platformer ini berlatar belakang di stasiun luar angka. Para pecinta game biasanya mengenal Third Person Shooter (TPS) dan First Person Shooter (FPS). Yang membedakan keduanya adalah perspektif atau sudut pandang dari pemain. Biasanya game tipe FPS, hanya beberapa anggota tubuh karakter saja yang terlihat seperti, tangan atau kaki.

Jadi ketika memainkan game seperti Artificial dengan sistem VR-nya, sang pemain akan merasakan sensasi masuk ke dalam dunia game hanya dengan bantuan kacamata VR.

“Sementara, kami masih mengembangkannya sampai level 6, mudah-mudahan bisa berlanjut terus, ” ucap Muhammad Roychan Meliaz selaku programmernya.

Tahap demi tahap, pemain diajarkan kemampuan melompat, teleportasi dan bergelantungan untuk menyelesaikan rintangan dari lantai ke lantai stasiun luar angkasa tersebut. “Dalam menyelesaikan tiap levelnya, pemain dituntut untuk berpikir kritis mencari berbagai cara dalam memecahkan rintangan dengan kemampuan yang tersedia,” jelas Roychan.

Dengan kerumitan dalam program game tersebut, ketiga remaja ini hanya membutuhkan waktu penggarapan kurang lebih 20 hari. “Paling lama, memang waktu menentukan ide dan jalan cerita game ini. Deadline lagi-lagi menjadi penolong kami,” ungkapnya.

Ide ceritanya, lanjut Dimas Ardyaridatama Rayhan selaku game artist dan story writter dirancang sesuai dengan tema yang dilombakan yakni futuristik. “Kami berpikir tahap demi tahap. Karena salah satu temanya futuristik, kami ingin semua elemen game mengangkat kemajuan teknologi,” kata Dimas.

Cerita manusia setengah robot dan luar angkasa adalah hal paling luar yang bisa dipikirkan. “Selanjutnya, kami ingin tampil beda dengan mengangkat sistem VR dan 3D,” ucapnya.

Kelar urusan ide dan program, giliran Andi Renaldy Noviaz Musyatillah yang berperan sebagai engineer dan mengurusi efek suara. Main game tanpa suara bikin game tidak ada sensasinya. “Masalah hak cipta efek suara juga jadi kendala,” kata Aldy.

Sebagai contoh, jika karakter game melompat perlu suara yang pas. Karena sang karakter adalah manusia setengah robot, otomatis suara yang dipilih adalah suara yang menggambarkan benturan baja. “Nah, sulit juga karena banyak efek suara yang sesuai tapi punya hak cipta. Jadi saya harus benar-benar jeli mendengarkan efek suara yang pas,” ungkapnya.

Setelah Artificial selesai, urusan administrasi yang dibenahi. Tim Elcity harus menyiapkan laporan akhirnya setelah sebelumnya mengirim laporan awal dan perkembangan.

Rabu (22/2) menjadi hari yang dinanti ketiganya, karena waktu pengumuman finalis sudah tiba. “Syukurlah kami berhasil lolos ke babak final dan bisa berangkat ke Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk bertemu dengan finalis lainnya,” ucap remaja berkacamata ini.

Bertolak ke Surabaya, bukannya gugup malah rasa optimis menghinggapi ketiganya ketika berhadapan dengan finalis lain. “Karena cuma kami yang mengangkat teknologi VR di dalam kompetisi tersebut. Finalis lain hanya menciptakan game 2D saja,” ungkapnya.

Ketika penilaian akhir, kelima finalis dari seluruh Indonesia diberi kesempatan memamerkan karya mereka lewat pameran di Kampus ITS. “Selagi pameran, finalis dipanggil satu persatu untuk menjalani interview tertutup,” ucap remaja bertubuh kurus ini.

Kali ini, rasa gugup berhasil menerobos perasaan mereka. Juri mulai membacakan hasil penjurian dari juara tiga hingga juara dua. “Tinggal juara satu tingkat yang belum diumumkan, tapi pembawa acara malah menutup acaranya. Kami sempat heran juga, tapi syukurlah rasa itu langsung hilang ketika nama tim kami dipanggil,” cerita Aldy lagi.

Hasilnya, mereka berhak mendapatkan uang tunai, medali dan free pass (tiket masuk) ke ITS. Sayangnya hanya satu orang saja yang berhak mendapatkan free pass tersebut. “Juri memilih Roychan karena dari segi porsi dan peran dia dalam game ini,” ungkap Aldy dan Dimas sembari tersenyum.

Keduanya mengaku tidak kecewa karena satu orang saja yang bisa langsung diterima di ITS. “Kami masih bisa mencoba cara lain masuk universitas favorit kami,” tambah Dimas.
SMAN-1-Juara-Mage-2017,-F-W
Ketiga pelajar ini menerangkan, hadiah uang tunai sebenarnya bukanlah tujuan utamanya. “Kami sudah merasa senang karena bisa bertemu dengan pelajar dan mahasiswa lain yang berprestasi dalam bidang multimedia dan game. Bisa menambah pengalaman dan wawasan kami,” Sahut Aldy.

Mereka berharap bisa mengembangkan game ini hingga ke ajang internasional. “Pertama mungkin, memperbanyak level dan kemampuan karakter game ini agar menambah keseruan ketika memainkannya,” kata ketiganya sepakat.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMAN 1 Batam, M Chaidir mengatakan sekolah selalu memberikan dukungan bagi siswanya untuk berkreativitas. “Kami terus mendukung. Kami ingin apa yang mereka ciptakan saat ini dan nantinya bisa berguna. Tentu saja, kami ingin mereka meningkatkan kemampuan dengan karya mereka yang lain,” kata Chaidir.

Lanjut Chaidir mengatakan di saat remaja seusia mereka asik bermain game, ketiganya justru fokus membuat game sendiri. “Selama kegiatannya positif, pihak sekolah akan membantu dan mendukung kegiatan siswanya, apapun itu,” tutupnya.
WAHYUDIN NUR, Batam

Komentar

komentar