Aprin Ardianto, pesilat kebanggan Kepri, (Kepulauan Riaa). Lahir di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Ia akrab dengan seni beladiri pencak silat sejak kecil. Bukan karena orang tua atau keluarganya merupakan atlet silat, melainkan karena lingkungan yang memang sangat familiar dengan olahraga khas nusantara ini.

“Mulai belajar silat sejak usia 10 tahun, karena hampir semua anak-anak di Ponorogo belajar silat,” ujar Aprin saat ditemui di mess atlet pencak silat Kepri di Tiban, Batam, kemarin.

Ia pun memutuskan bergabung di Perguruan Setia Hati Teratai (PSHT) Ponorogo untuk memperdalam seni beladiri pencak silat ini. Sepuluh tahun lamanya ia berlatih pencak silat dan mengikuti berbagai kejuaraan pencak silat di Ponorogo. Namun dewi fortuna belum berpihak pada pemuda kelahiran 8 April 1987 ini. Ia tak pernah meraihgelar juara.

“Di sana saingannya banyak, ketat, dan jago-jago,” ucap Aprin.

Tahun 2006, putra pasangan Slamet dan Supriyati ini hijrah ke Tanjungbalai Karimun, Kepri. Berbekal ijazah SMA-nya, Aprin mencoba peruntungan mencari kerja di Bumi Berazam itu.

“Waktu itu saya ikut paman,” kenangnya.

Namun ternyata tak mudah mendapatkan pekerjaan di Karimun. Bahkan setelah dua bulan mencoba melamar ke sana kemari, tak satupun panggilan kerja menghampirinya.

Merasa tak enak terlalu lama menumpang pada pamannya, Aprin mencoba mencari peruntungan lain. Ia kemudian mencari informasi kejuaraan pencak silat di Kepri. Kebetulan, waktu itu ada kejuaraan pencak silat yang digelar di Batam.

Tanpa berpikir panjang, Aprin langsung ke Batam untuk mengikuti kejuaraan yang digelar PSHT Kepri tersebut. Tak disangka, Aprin berhasil meraih prestasi gemilang.

“Langsung dapat emas,” terang lajang 29 tahun ini.

Sukses di kejuaraan itu, Aprin langsung ditawari untuk berlatih di PSHT Batam. Dan hasilnya tak mengecewakan. Ia mampu meraih sejumlah gelar bergengsi dalam berbagai kejuaraan silat. Baik sebagai atlet PSHT Batam maupun saat mewakili Kepri dalam berbagai kompetisi silat tingkat nasional.

Di antaranya meraih emas di Kejuaraan Daerah (Kejurda) pencak silat di Lingga tahun 2008, emas di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PSHT di Solo tahun 2010, dan emas di Kejurnas pencak silat di Jakarta tahun 2014.

Dewi Fortuna kembali memayungi Aprin. Setelah berhasil menjuarai Kejurnas di Jakarta tahun 2014, ia langsung masuk Pelatihan Nasional (Pelatnas) yang dipersiapkan untuk menghadapi Sea Games 2015 di Singapura.

“Senang dan bangga, saya tidak menyangka bisa masuk Pelatnas,” tutur peraih perunggu di PON 2012 Pekanbaru ini.

Di Sea Games 2015 tersebut ia berhasil mempersembahkan perunggu untuk Indonesia. “Inilah prestasi tertinggi saya saat ini,” jelas Aprin.

Namun kegemilangan di dunia pencak silat, berbanding terbalik dengan karirnya di dunia kerja.  Keluar masuk perusahaan pernah ia lakoni dalam kurun waktu 2006-2014.

Aprin sempat bekerja di dua perusahaan, yakni di perusahaan galangan kapal dan perusahaan industri manufaktur. “Saya putuskan resign, karena kalau kerja di PT, jadi tidak bisa latihan,” ujar peraih perak dalam kejuaraan dunia pencak silat di Thailand tahun 2015 ini.

Aprin juga pernah mencicipi menjadi pegawai harian lepas Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Batam serta Dinas Tata Kota (Distako) Batam. “Di Distako cuma tiga bulan, kalau di DKP hampir dua tahun,” kata pemuda yang turun di kelas B (50-55 kg) dalam pencak silat ini.

Tahun 2012, ia masuk ke Satuan Polisi Pamong Praja (PP) sebagai tenaga honorer. Tahun 2014, ia harus berhenti lagi karena mengikuti Pelatnas di Cianjur.

Setelah itu, pemuda berkulit sawo matang ini tidak mempunyai pekerjaan sampai saat ini.

“Sekarang hanya fokus di silat saja, lagian setelah PON 2016, saya harus kembali ke Pelatnas untuk persiapan Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang,” ungkapnya.

Mengenai targetnya di PON 2016 mendatang, ia akan berjuang sekuat tenaga untuk meraih emas pertamanya dalam ajang multi event empat tahunan ini. Meskipun banyak saingan dari provinsi lain yang juga merupakan teman-teman Pelatnasnya.

“Jatim, Jabar, Jateng dan DKI adalah saingan terberat saya,” kata Aprin.

Bahkan waktu menjalani Pelatnas, Aprin terkadang merasa minder dengan atlet dari daerah lainnya, terutama dari Jawa. “di Jawa, atletnya dibina untuk berprestasi, sedangkan di Kepri dituntut untuk berprestasi, namun tanpa adanya pembinaan,” keluhnya.

Aprin yang saat ini mendiami mess atlet pencak silat di daerah Tiban bersama atlet-atlet pencak silat Kepri ini mengungkapkan, kurangnya perhatian pemerintah membuat seorang atlet di Kepri harus berpikir dua kali untuk memutuskan apakah memilih karir di dunia kerja atau di dunia olahraga.

Sempat terbersit dalam pikirannya, setelah menjadi atlet Pelatnas, Aprin ingin kembali pulang dan membela daerah tanah kelahirannya, Ponorogo, Jawa Timur.

“Sempat terpikir sih, tapi di Batam, Kepri ini saya seolah terlahir sebagai manusia baru, banyak juga yang sudah dilakukan PSHT Batam maupun Kepri untuk saya. Jadi saya akan bertahan dan membela Kepri di tingkat nasional,” katanya. ***

 

 

OCTO ZAINUL AHMAD, Batam

Komentar

komentar