Gian Ramadhan. Remaja kelahiran Batam, 1 Desember 2001 ini mewakili Indonesia sebagai atlet pada ajang Children of Asia International Sports Games, di Yakutsk, Rusia. Ini ialah ajang olah raga empat tahunan.

Wow…

Ia bertolak ke negeri beruang merah itu Rabu, 6 Juli 2016, tepat pada Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah.

Seusai menunaikan Salat Ied, pemuda bernama lengkap Gian Ramadhan Manggala Putra ini langsung sungkem, meminta maaf kepada orangtuanya.

Usai santap ketupat dan opor ayam, makanan khas lebaran, Gian langsung berkemas.

“Banyakin jaketnya, karena di Rusia dingin,” pesan ibunya kepada Gian.

Pukul 14.00 WIB, Gian didampingi kedua orangtua terbang ke Jakarta dulu untuk bertemu pelatih dan atlet judo lainnya. Sesampainya di Bandara Soekarno Hatta pukul 17.00 WIB, Gian dan kedua orangtuanya langsung disambut pelatihnya, Agus Setiawan dan atlet judo Jakarta, Dimas Wiradinata yang juga akan ikut mewakili Indonesia di ajang sekelas Olimpiade bagi anak-anak itu.

Keesokan harinya, Kamis (7/7) pukul 8.00 WIB, pelatih dan kedua atletnya ini langsung bertolak ke Rusia.

“Sempat transit di Doha sebentar selama satu jam,” ujar Gian.

Perjalanan dari Jakarta ke Doha, UEA memakan waktu tujuh jam.

Dari Doha ke Moscow, Rusia memakan waktu empat jam.

Begitu turun dari pesawat, hawa dingin langsung menyergap Gian. Meskipun saat itu Rusia memasuki musim panas, namun suhu disana menunjukkan 18 derajat celsius, masih terbilang dingin untuk ukuran orang Indonesia.

“Walaupun musim panas, tetap saja dingin,” kata putra pasangan Cakrawala dan Santi Noviana ini.

Perjalanan belum berakhir sampai disitu, karena dari Moscow ke Yakutsk, perlu waktu delapan jam naik pesawat.

Meskipun terserang jet lag, Gian, Dimas dan pelatihnya tentu tak menyia-nyiakan kesempatan berkunjung ke ibukota Rusia ini dengan berjalan-jalan mengusir penat dan jenuh.

Mereka pun pergi ke Lapangan Merah. Salah satu tempat wajib yang dikunjungi di Rusia bagi turis luar negeri. Lapangan merah ini persis berada di depan Istana Kremlin tempat Presiden Rusia berkantor. Banyak wisatawan menikmati Lapangan Merah sembari berfoto.

“Jalanannya bersih, tidak banyak kendaraan yang melintas,” kata Gian.

Setelah berpuas jalan-jalan sejenak, perjalanan langsung dilanjutkan menuju Yakuts. Yakutsk adalah ibukota dari Republik Sakha, Rusia.

Terletak 280 km sebelah selatan dari kutub utara Arktik. Yakuts tercatat sebagai salah satu kota paling dingin di bumi.

“Yakuts lebih dingin dari Moscow,” kata anak tunggal ini.

Gian mengamati, orang-orang Yakuts nampak berbeda dengan orang Rusia.

“Mereka berasal dari ras Mongolia, matanya lebih sipit,” ungkapnya.

Di ajang Children of Asia ini, Gian dan Dimas akan turun sebagai atlet sambo. Sambo sendiri adalah jenis olahraga beladiri asli Rusia.

“Gabungan judo dan gulat,” tutur Gian.

Meskipun bukan olahraga yang ditekuninya selama ini, sambo tidak terlalu berbeda dengan judo.

“Hampir mirip,” ucap pemilik sabuk cokelat judo ini.

Pada pertandingan pertama Gian berhasil mengalahkan lawan dari Turkmenistan.

“Susah payah menangnya,” imbuhnya.

Pertandingan kedua, ia langsung berhadapan dengan lawan dari tuan rumah. Gian dipaksa mengakui kekalahannya.

“Lawannya dari Rusia, sangat kuat,” timpal siswa SMAN 20 Batam ini. Sedangkan rekannya, Dimas langsung kalah di pertandingan pertama.

Walaupun begitu, Gian mengaku puas dan senang bisa mengikuti ajang yang  pertama kali diikutinya ini.

“Bangga bisa mewakili Indonesia pada ajang sebesar ini yang diikuti anak-anak se Asia dan beberapa negara Eropa,” beber peraih perunggu di Kejuaraan Nasional judo 2015 di Yogyakarta ini.

Gian sendiri sudah menggeluti olahraga judo sejak usia 4 tahun. “Yang ngajarin ayah yang seorang mantan atlet judo,” papar atlet judo kelas 81 kg ini.

Setelah mengikuti Children of Asia dan bertarung dengan atlet luar negeri, Gian mengaku semakin giat berlatih dan berlatih karena masih banyak orang yang lebih kuat dan hebat darinya.

“Target saya dalam waktu dekat ini adalah bisa menjadi atlet di PON 2020 mewakili Kepri,” tutup pemuda yang bercita-cita menjadi polisi ini. ***

Octo Zainul Ahmad, Batam

Komentar

komentar