Kenalkan, Bripka Marulam Siahaan. Ia ialah anggota Bintara Unit (Banyunit) Patroli Polsek Batuaji. Ia bukan polisi biasa. Tamatan bintara polisi tahun 1999 itu cukup lihai dalam ilmu bela diri. Ilmu bela diri yang ditekuninya bukan saja ilmu bela diri kepolisian, tapi juga Tako (tangan kosong).

Bela diri Tako yang bernaung dibawah Forki, sudah menjadi bagian dari hidup Marulam sejak duduk di kelas VI SD. Alhasil dengan semangat dan ketekunannya berlatih Tako tahuan 1999 ayah dua anak ini diterima sebagai anggota Polri.

“Diterima polisi karena olahraga ini juga, badan saya sehat dan kekuatan tubuh sudah terlatih dengan baik jadi saat tes dan ikut pendidikan polisi saya lolos,” kata ayah dua anak itu.

Saat berdinas sebagai Satuan Shabara Polresta Barelang, pria kelahiran tahun 1980 itu dipercaya oleh pimpinan polisi Polda Kepri sebagai pelatih atau simpai Tako untuk polisi lain yang berdinas di Mapolda Kepri.

“Itu instruksi Kapolda bahwa anggota harus perdalam ilmu bela diri dan kebetulan Tako yang dipilih dan saya jadi salah satu pelatihnya sampai sekarang,” kata Marulam.

Berbekal pengalaman dan ilmu bela diri yang sudah dipelajarinya sejak tingkat SD itu, Marulam kini diberi kesempatan untuk membuka dojo atau cabang baru oleh pimpinannya di tempat dinasnya di Mapolsek Batuaji. Alhasil baru dua bulan berdiri, kini Tako dojo Polsek Batuaji sudah memiliki 20 an anggota dari warga sekitar.

“Kalau yang di Polda, anggota yang ikut sekitar 400 orang. Itu polisi semua,” katanya.

Bersama sejumlah simpai lainnya dan dibawah bimbingan Kapolsek Batuaji Kompol Andy Rahmansyah, Marulam bertekad akan memajukan ilmu bela diri Tako tersebut.
“Motivasi utama saya memang untuk olahraga. Namun yang jauh lebih penting bagaimana polisi merangkul masyarakat biasa untuk sama-sama mengisi waktu luangnya demi sesuatu yang bermanfaat,” kata Marulam.

Saat masih berdinas sebagai anggota Shabara di Mapolresta Barelang, dia pernah melumpuhkan pelaku geng motor kriminal hanya dengan ilmu bela dirinya.
“Melawan anak-anak (geng motor, red) itu ya saya gunakan ilmu bela diri saya dan berhasil menangkap mereka,” katanya.

Memang saat itu dirinya dilengkapi senjata api, namun tidak digunakan karena dia masih bisa mengatasi dengan bekal ilmu bela dirinya itu.

“Pistol itu pilihan terakhir, seorang polisi harus bisa bela diri, itu yang diinstruksikan pimpinan juga. Kalau sudah terdesak baru boleh pakai senjata namun tetap sesuai prosedur yang ada,” katanya.

Selama menjadi pelatih Tako, Marulam juga sudah beberapa kali menyabet juara seperti,

  • Juara II Kejurnas Tako di Jakarta pada bulan April  2016 lalu,
  • Juara III kejuraan internasional Bandung Karate Club (BKC) di Tumenggung, 2015
  • Juara I Forki pada perhelatan piala wali kota Tebing Tinggi tahun 2003.

Dengan adanya prestasi yang pernah disabetnya itu, Marulan terus bertekad akan semakin giat lagi memperdalam ilmu bela dirinya dan juga melatih kader-kader lainnya.

“Kalau di Polsek ini akan fokus pada anak-anak agar anak-anak di sini lebih dekat dengan polisi. Polisi bukan untuk ditakuti tapi polisi itu sahabat semua orang baik termasuk anak-anak,” kata Marulam.

 

 

EUSEBIUS SARA – BATAM

Komentar

komentar