[dropcap size=big]G[/dropcap]ambar di atas ialah Dian fAtrisya  staf Telkomsel Sumbagteng. Ia tengah asyik mengetik di gawainya. Ia menyalin dari secarik kertas. Ketikan itu ia simpan di notes di gawainya.

“Entar disebar di grup, Mas,” ujar Dian.

Grup yang ia maksud ialah grup WhataApp rombongan Press Gathering Telkomsel Area Sumatera, 2016.

Hari itu saya, Dian, Yusuf Hidayat (Batam Pos), Iman Suryanto (Tribun Batam) terbang ke Jogja dengan Lion Air. Artikel ini ialah catatan kecil tentang gathering itu. Sebuah gathering yang untuk pertama kali saya ikuti.

Kehebohan gathering ini sudah mulai terasa bahkan sebelum berangkat, tepatnya saat saya di-invite ke dalam grup WA yang berisi panitia dan peserta gathering. Semua anggota gathering saling menyapa di grup. Nampaknya mereka sudah saling kenal. Heboh, bahkan. Bersaing dengan kehebohan siswa SMP yang bersiap menghadapi Ujian Nasional.  Saya tak “bersuara” di grup itu. Hanya satu – dua akun yang saya kenal.

Benarkah mereka saling kenal? Ini wartawan se Sumatera loh…

Rasa penasaran itu terjawab.

Pada saat sarapan di hotel di Jogja. Saya bertanya kepada Supervisor Corporate communication Telkomsel Sumbagteng, Hanny Hairany. Perempuan yang akrab disapa Ayu ini membenarkan sebagain peserta gathering kali ini pernah ikut pada gathering tahun sebelumnya.

Kembali di pesawat Lion Air dalam penerbangan Batam – Jogja, kami duduk berderet di bangku nomor 22. Hanya Iman yang dibatasi koridor pesawat. Layaknya perjalanan bersama-sama aneka cerita dan polah pun muncul. Diantara keisengan itu ialah muncul sebuah pertanyaan. “Mengapa sanggul pramugari itu sama?”

Pertanyaan itu terjawab. Jadilah artikel di bawah ini.

Sanggul Croisant, Sanggul Pramugari

Perjalanan Batam – Jogja sekira 2 jam. 1 jam kedua saya berjalan ke belakang, siapa tahu ada bangku yang kosong sehinga bis alebih leluasa. Harapan saya terkabul. Ada bangku kosong. Rupanya bukan hanya saya yang mencari bangku kosong. Seorang gadis bule pun mencari dan ia mendapatkan. Ia langsung merebahkan diri di tiga bangku sederat yang kosong. Kulitnya tak lagi putih layaknya bule, sudah tan. Mungkin ia telah berjemur di pantai di Batam.

Sekira pukul 12 siang kami mendarat di Adi Sucipto, Jogjakarta. Tak lama kemudian muncul notifikasi WA di ponsel. Ini pesan dari Mbak Ayu.

note1
Rupanya inilah salah satu yang diketik Dian di atas pesawat tadi. Sebuah pesan bersahabat kepada peserta gathering. Sebuah pesan yang sangat tertata dan detil. Seperti pesan di bawah ini, sebuah pesan saat akan “bermain air” di Gua Pindul Kabupaten Gunung Kidul.

note2Data tentang Gua Pindul saya dapat dari pemandu saat menyusuri gua. Rupanya data itu sudah disiapkan panita saya belum baca sebab dah siap-siap untuk berbasah-basah ria.

Sebuah pelajaran menarik, bagaimana panitia menyiapkan hal detil termasuk yang kecil semacam sapaan seperti ini.

Saat Gala Dinner pun tak kalah menarik. Panitia berhasil mendorong peserta untuk unjuk kebolehan di atas pentas. Peserta Sumatera Bagian Sel;atan, Tengah dan Utara beradu aksi di pentas. Tentulah tak sempurna sebab persiapannya hanya beberapa jam saja tetapi mampu memerihkan suasana dan semua ikut terlibat, peserta maupun panitia. Dari kita, oleh kita untuk kita.

track

foto: yusuf hidayat untuk batam.top

track2

foto: yusuf hidayat untuk batam.top

Keseruan tak hanya berlangsung pra dan saat gathering berlangsung, setelahnya pun keseruan masih ada. Kali ini kembali melalui jejaring sosial, WA.

Setiap peserta yang semua reporter unjuk tulisan di media masing-masing. Tak itu saja saling sapa pun masih ada.

 

PUTUT A

Komentar

komentar