[dropcap size=big]K[/dropcap]enalkan, Ayu Ainullah Muryasani alumni SMP Kartini 2, Batam. Sekarang ia kuliah di jurusan budidaya pertanian, program studi agronomi, Universitas Gadjah Mada angkatan 2012.

Ayu, demikian ia sering disapa, berhasil ikut program JENESYS (Japan-East Asia Network of Exchange for Student and Youth) 2015. JENESYS merupakan program pertukaran pemuda yang dinaungi Yayasan Japan International Cooperation Center (JICE) bertujuan untuk meningkatkan pemahaman antar pemuda negara-negara ASEAN dengan Jepang.

Ayu berada di Jepang pada tanggal 8-15 Maret 2016, lalu.

Ayu tidak sendiri, ada 19 mahasiswa lain yang gabung pada program ini.

“Kota yang kami kunjungi adalah Tokyo, Tsukuba dan Fukushima,” ujar Ayu.

Prefektur Fukushima memiliki desa pertanian yang maju yaitu Desa Tenei. Desa ini memiliki luas 22.556 hektar dengan jumlah penduduk 6.031 orang.

Ada Danau Hatori yang indah dan dikelilingi Pegunungan Nasu.

“Saat kesana pas musim dingin, banyak wisatawan datang untuk merasakan salju dan ski,” lanjut Ayu.

Produk pertanian unggulannya adalah beras dan selada hidroponik. Beras Tenei merupakan beras terbaik di Jepang yang mendapatkan penghargaan emas pada International contest on Rice Taste Evaluation.

Ayu bercerita, kecelakaan PLTN Fukushima akibat gempa dan tsunami pada tanggal 11 Maret 2011 berdampak negatif pada Desa Tenei. Selama 3 tahun, desa ini mampu memperbaiki tekstur, struktur tanah yang rusak akibat keracunan logam. Rumor zat radioaktif yang tersebar di kancah International tidak benar seutuhnya.
Masyarakat desa telah melakukan upaya-upaya dalam mengatasi musibah tersebut seperti menyortir hasil pertanian sehingga hanya menjual atau mengkonsumsi makanan yang berkualitas serta melakukan berbagai penelitian hingga Desa Tenei dapat menghasilkan Beras dengan penghargaan Emas. Oleh karena itu, kami delegasi Indonesia dinobatkan sebagai “Tenei-mura support Ambassador”, dengan harapan dapat menyebarluaskan informasi dan pengetahuan yang akurat mengenai Desa Tenei.

ayujepang

Selain beras, komoditas selada hidroponik juga menjadi unggulan di desa ini. Selada dibudidayakan di greenhouse dengan sistem yang menyesuaikan musim di Jepang untuk memberikan suplai yang kontinyu di pasar. Greenhouse dibangun pada ketinggian 700 mdpl dengan luas 500m2. Pada musim dingin seperti saat ini, digunakan energi panas tanah dan air sungai pegunungan untuk menjaga suhu ruangan agar selada dapat dibudidayakan sepanjang tahun. Sedangkan kegiatan praktik lapangan yang kami ikuti yaitu  menanam daun bawang pada peralihan musim dingin ke musim semi dengan menggunakan alat penanam sederhana sehingga pekerjaan lebih singkat dan efisien.

“Kami juga diperkenalkan kebudayaan dan tata karma masyarakat Jepang dengan mengikuti kegiatan home stay. Melakukan aktivitas keseharian bersama host family, kami mendapat otoosan (bapak) dan okaasan (ibu) angkat. Sungguh menyenangkan. Banyak hal yang sederhana yang dapat dicontoh seperti, selalu menjaga kebersihan, tepat waktu, disiplin, menghargai orang lain (selalu membungkuk dan mengucapkan salam), mengucapkan “itadakimasu” (selamat makan) sebelum makan dan “gochisou sama deshita” (terimakasih atas makanan yang enak) setelah makan secara bersamaan.”

Seminggu di Jepang begitu berkesan. “Kami delegasi Indonesia berkeinginan untuk kembali ke Jepang menuntaskan keingintahuan dan mencari banyak ilmu. Kemudian kembali ke tanah air untuk mengubah pandangan Indonesia akan Jepang dan berperan dalam kemajuan pertanian Indonesia untuk mencapai ketahanan dan kedaulatan pangan. Arigatou gozaimasu.”

Komentar

komentar