[dropcap size=big]E[/dropcap]ksotisme Tudung Manto tak pernah ada habisnya. Kemolekan pakaian tradisioanl orang Melayu Daik ini terus menjadi perhatian dunia melayu. Bahkan, beberapa waktu lalu mengikuti Pameran Kelingkan Alam Melayu (PKAM) di Serawak, Malaysia dan mendapat apresiasi luar biasa.

Motifnya yang beragam, elegan, dan mewah, Tudung Manto memiliki berbagai nama atau varian dari masing-masing daerah. Hebatnya lagi, meski semenanjung melayu begitu luas, tidak semua bekas kerajaan melayu memilikinya. Hanya kesultanan tertentu saja, salah satu kesultanan Lingga-Riau, di Daik Lingga.

Penggiat pakaian tradisional Melayu di Serawak, Suhana Sarkawi, mengatakan, dalam PKAM yang ditaja Ikatan Graduan Melayu Serawak (IGMS) pada 15 hingga 17 April kemarin, selain Tudung Manto Daik dipamerkan juga Kelingkan dari Palembang dan juga Keringkam Serawak. Jika dilihat sekilias, kata Suhana, antara Tudung Manto dan Kelingkan memiliki kesamaan. Namun penamaannya berbeda di masing-masing wilayah.

”Di Daik disebut Tudung Manto, di Palembang namanya Keringkan, sedangkan di Serawak, Keringkam. Semua bahan utamanya sama, namun kekayaan motif dan kreasi juga gaya tekat atau sulam memiliki kekhasan dan caranya masing-masing,” ungkap Suhana, Rabu (20/4).

Dijelaskan Suhana, Tudung Manto, Kelingkan, maupun Keringkam adalah salah satu kreativitas perempuan melayu yang menjadikan sebuah mahakarya turun temurun. Kemudian ditularkan secara non formal dari generasi ke generasi.

”Tudung Manto dalam pameran tidak jual. Tapi pengunjung bisa melihat langsung dan juga belajar bagaimana cara menyulam. Tujuannya supaya mengenal lebih dekat pakaian tradisional ini,” pungkasnya.

 

HASBI

Komentar

komentar