[dropcap size=big]H[/dropcap]M Sani, dua kali menjadi Gubernur Kepri. Periode pertama ia meimpin selama 5 tahun. Periode kedua hanya 57 hari. Ia wafat 8 April 2016 pada hari Jumat, sama dengan hari saat ia dilantik.

Sani memulai segalanya dari bawah. Sani lahir dari keluarga tergolong miskin di Parit Mangkil, Desa Sungai Ungar, Tanjungbatu Kuncur, Karimun, Kepulauan Riau pada 11 Mei 1942.

“Untuk membiayai saya di sekolah rakyat (sekarang SD) saja orang tua saya kepayahan. Apalagi saat SMP. Waktu kelas tiga SMP partikelir, saya sempat berhenti karena malu setiap hari ditagih uang sekolah,” kata suami dari Hj Aisyah, pasangan yang dikaruniai tiga anak, Herry Andrianto, Henny Andriani dan Riny Fitrianti, serta lima cucu.

Namun, kata Sani, seorang guru ilmu ukur sudut (matematika), Simanjuntak, datang ke rumah dan membujuk supaya sekolah lagi tanpa dipungut biaya. Kala itu SMP partikelir (swasta, red) bisa menjadi SMP negeri bila ada siswanya lulus pada ujian akhir.

Harapan sekolah tertumpu pada Sani dan ternyata terbukti dari 28 siswa ujian, hanya ia yang lulus sehingga SMP partikelir pun menjadi SMP negeri dan menempati gedung sekolah yang dibangun pemerintah di Tanjungbatu.

Dari situlah ia merasa banyak keberuntungan yang membawanya hingga menjadi Gubernur Kepulauan Riau.

“Walaupun saya sudah berusia lanjut, namun saya beruntung masih diberi ‘ujian’ menjadi Gubernur. Saya saat ini masih merasa muda,” kata Sani, putra kedua dari 10 anak H Subakir dan Hj Tumirah, keluarga pekebun kopi, rambutan dan pinang.

Kisah Sani bisa menjadi inspirasi.

Komentar

komentar