[dropcap size=big]D[/dropcap]enim atau jeans kali pertama dibuat di Nimes, Prancis, pada abad pertengahan.

Denim, demikian orang Amerika suka sebut, makin mendunia. Terutama setelah Jacob Davis dan Levi Strauss membuat celana berbahan denim pada 1873. Celana yang disebut jins itu dibikin bagi para pekerja tambang emas Amerika. Bahannya tebal dan nggak gampang sobek sehingga jins nyaman dikenakan para penambang.

Popularitas denim pun makin meluas. Denim juga ikut mencuri hati fashion designer kelas dunia. Let’s say Valentino, Givenchy, Saint Laurent, dan Kenzo. Mereka menghadirkan koleksi reconstructed denim buat cowok dalam Paris Fashion Week 2016.

Yaps, the beauty of denim is its versatility. Dengan mix n match yang pas, denim bisa menghasilkan beragam tampilan untuk berbagai acara. Misalnya, untuk grunge and chic look, kita bisa padukan overall denim skirt dengan loose shirt in brown sebagai inner. Tinggal lengkapi look dengan black combat boots.

Denim-on-denim, why not? Pilih dua jenis denim outfit dengan warna yang sedikit berbeda. Misalnya, light blue shirt yang dipadukan dengan dark blue denim cullote. Biar nggak boring, tambahkan juga white oversized outer. Look itu bisa dipakai untuk occasion semiformal loh. Untuk tampilan yang lebih casual and little bit swag, padukan denim jacket dengan crop top sebagai inner dan ripped jeans. (historyofjeans/glamour/grc/c14/adn)

Komentar

komentar