[dropcap size=big]M[/dropcap]i Lendir identik dengan sepotong jalan di Tanjungpinang, namanya Jalan Bintan. Jalan yang taklah lebar sangat dan mungkin panjangnya hanya sekitar satu kilometer itu tak jauh dari Pelabuhan Tanjungpinang.

Sastrawan dan budayawan Rida K Liamsi mengingat sejarah perkembangan sepiring mi itu dengan ingatan yang rinci.

Kejayaan Pak Sailun dengan gemilang dilanjutkan oleh Lek Man, meskipun perjalanannya diwarnai sengketa dengan pemilik kedai kopi. Dari Kedai Kopi Zaman, Lek Man pindah berjualan ke kedai lain, tapi masih di Jalan Bintan.

Di kedai kopi baru, Lek Man dan istrinya harus memberitahukan kepada pelanggan bahwa mereka sudah pindah tempat.

Caranya unik, istri Lek Man menaruh kursi kayu kecil di pinggir Jalan Bintan di depan kedai kopi di mana mereka berjualan. Ia berdiri di kursi itu sambil melambaikan kain serbet yang biasa dia pakai untuk mengepal kertas alas bungkus mi, sambil berseru kepada pembeli, “Eh, Nduk kami pindah sini ya, ini tempat baru kami!”

Sejarah Mi Lendir Kepulauan Riau (1): Legenda Kuliner dari Pak Sailun Hingga Lek Man

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Membersihkan tauge.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Suami istri penjual mi lendir di Jalan Bintan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dari balik gerobak.

Itulah yang dia lakukan sepanjang pagi sambil sesekali kembali ke gerobak untuk melayani pesanan. “Begitulah dia lakukan hampir sebulan penuh. Setelah itu ya kabar pindah tempat mi lendir Lek Man itu diteruskan dari mulut ke mulut,” ujar Rida.

Sukses di Tanjungpinang, Lek Man mengembangkan bisnis mi lendirnya itu ke Batam, melalui anaknya. Dan laris juga.

“Itulah yang ada di kedai kopi Harum Manis di Nagoya,” kata Rida.

Di Tanjungpinang masih ada satu lagi penjual mi lendir yang cukup terkenal. Bukan di Jalan Bintan, tapi di Jalan Merdeka dekat kedai kopi Suka Ria dulu.

“Itu kedai kopi tempat penyair sering ngumpul dan ngutang. Namanya mi lendir Mario. Lek Mario meninggal, istrinya meneruskan,” kenang Rida, salah seorang dari penyair yang sering ngumpul dan mungkin sering juga berutang itu.

Mi lendir warisan Lek Mario itu pindah ke Jalan Bintan juga karena kedai kopi Suka Ria pindah ke sana.

“Artinya mi lendir memang identik dengan Jalan Bintan, Tanjungpinang,” kata Rida.

Mi Lendir akhirnya kini memang identik dengan Tanjungpinang. Di Pekanbaru sekarang juga ada mi lendir di Jalan Ahmad Yani. Restorannya lebih modern, dan nama yang dipakai adalah Mi Lendir Tanjugpinang.

Hasan A – Batam Top – Foto: IG YLfooddiary

Komentar

komentar