[dropcap size=big]T[/dropcap]iliklah raut wajahnya, seandainya dia mengaku saudaranya aktor Reza Rahadian rasanya tak ada yang tidak percaya. Dengarkan ia menyanyi – lihat tautan video Rebak Rilke di akhir artikel ini –  ah, suaranya mengingatkan pada kelembutan Daniel Sahuleka. Dia pun alumni Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Jurusan Sistem Informatika. Dengan semua bekal itu, apa yang bisa menghalangi Bagustian Iskandar –  anak Batam, sulung dari dua saudara – ini  untuk menjadi sosok yang besar di negeri ini?

Batam.Top mewawancarainya, tentang kenapa ia kembali ke Batam setelah menyinggahi kota-kota besar di Indonesia,  memintanya membongkar apa rencana-rencana besarnya mewujudkan mimpi untuk diri, teman-temannya, dan kota Batam yang sangat ia cintai ini.

 

 bagusSelamat ya sudah lulus S1 dan senang mendengar kamu memutuskan kembali ke Batam dan membangun bisnis sendiri. Kenapa kembali Batam? Rasanya Yogya dan Jakarta bukan kota yang tak bisa kamu taklukkan?

Ada beberapa hal yang menarikku untuk kembali. Pertama, dalam beberapa tahun lagi, adikku akan tamat SMA, dan aku pengin sekali dia memaknai kehidupan di luar kota Batam ini.

Rasanya sayang sekali kalau dia yang rakus buku, senang melukis dan sangat tertarik belajar bahasa asing untuk kuliah di sini. Batam kurasa kurang mumpuni saat ini untuk mendongkrak minat belajarnya itu.

Sebagai kakak yang menyayanginya, aku harus kembali ke rumah, sebab ada semacam ‘politik keluarga’ yang mengharuskan satu anak tinggal di rumah, jika yang satunya keluar.

Oh, ya, kami hanya dua bersaudara saja. Aku enggak mau egois. Aku sudah melihat kehidupan dan menjumpai sekian banyak seniman di luar Batam. Besok adalah giliran adikku. Pasti itu menyenangkan.

Alasan kedua. Yogyakarta dan Jakarta adalah kota yang kurasa terlalu nyaman untuk mengembangkan bisnis kreatif.

“Indonesia adalah Pulau Jawa”.

Kalimat itu kadang ada benarnya. Lihat saja, banyak sekali musisi yang sukses di pulau itu. Aku sudah bepergian ke Bandung, Jakarta, Malang, Surabaya, Yogyakarta, Bali dan kota-kota lainnya di Jawa, dan banyak sekali bertemu dengan orang-orang hebat yang memberikanku banyak ilmu.

Entah kenapa, di akhir masa-masa kuliahku yang sekarat itu, aku jadi kepikiran untuk kembali ke Batam. Membangun pelan-pelan apa yang sudah kudapat di Jawa, bersama teman-teman.

Kota Batam, menurut Puthut EA bukanlah kota yang cocok buatku merintis karir musik dan industri kreatif. Aku enggak percaya. Aku mau buktikan itu sendiri.

I don’t look for any easy way, I just look for a possible way. Begitulah jawaban sok enggresnya! Hahaha!.

 

Bisa bagi cerita tentang kegiatan bermusikmu? Lagu-lagu gubahanmu? Panggung-panggung yang kamu jelajahi? Album rekamanmu? Industri musik berubah cepat dan banyak sekali dalam tahun-tahun terakhir ini ya?
Kegiatan bermusikku sangat seru. Sampai sekarang aku masih senang bermusik dengan lirik-lirik sastrawi. (Dengarkan lagu-lagunya di Soundcloud, Red)

Setelah menggubah puisi Hasan Aspahani, Agus Noor, Chairil Anwar, Irwan Bajang dan Radhar Panca Dahana, Insya Allah jika dimudahkan prosesnya, akhir tahun 2016 aku akan menggarap album lagi yang melibatkan puisi-puisi Saut Situmorang dan cerpen Puthut EA.

Entah kenapa, aku seperti dikutuk untuk menyanyikan lirik sastrawi.

Bicara soal panggung, alhamdulillah, aku sudah menggarami tidak sedikit panggung di Jawa sana. Dari event kecil yang hanya project thank you, pentas di peluncuran buku, festival buku, event musik di luar kota, sampai roadshow radio di luar kota, kuakukan nyaris semua sendiri.

Dan, oh ya, aku sempat juga ikut lomba baca puisi di Ibu Kota, hahaha!

Tapi untunglah ilmu-ilmu yang kudapat waktu sering main bareng EO waktu zaman sekolah dulu di Batam bermanfaat di sini. Toh, tidak sedikit teman-teman di sana yang siap menolongku. Mereka orang-orang yang baik.

Di Jogja, di tahun 2015 kemarin, aku juga sempat menelurkan satu buah album musik berbonus buku puisi. Kami beri nama “Kota Dalam Mata”. Aku bernyanyi, meng-compose, dan menulis puisi itu semua sendiri. Bersama kawan-kawan lainnya, seperti Ega Fansuri (mantan desainer Indie Book Corner) dan Deni Iqbal (mahasiswa DKV sebuah universitas swasta di Jakarta yang berasal dari Batam) kami mengawinkan musik, puisi dan ilustrasi.

“Kota Dalam Mata” adalah sebuah karya yang spesial bagiku. Apalagi, aku beruntung. Karya itu diproduseri oleh pemilik studio OPRC asal Palu yang bukan main jelinya. Aku benar-benar dididik menjadi musisi. Bukan hanya cara bermusik, tapi attitude sebagai pemusik.

Hal yang membuatnya makin spesial adalah, “Kota Dalam Mata” disponsori oleh Homeland (sebuah PH di Jogja) dan Indie Book Corner. Haaa! Dan keburuntungan seperti belum habis menjatuhiku. Ada seorang music diretor yang membantu mempublish single albumku ke seluruh Indonesia, namanya Jeci.

Aku sangat beruntung atas kebaikan mereka.
Album ini ku-launching dua kali. Pertama di Jakarta, lalu di Jogja. Dan syukurlah, album ini sekarang bisa dibeli di iTunes, Amazon dan Google Play.

Industri musik Indonesia masuk fase yang menyenangkan! Kita lihat saja satu dekade ini. Hihi.
Kamu membangun startup bisnis berbasis digital, menggerakkan Sindikat Otak Kanan, Woks! Store. Ini apa rencana besarnya?

 

Sindikat Otak Kanan. Hmm… mulanya, Sindikat Otak Kanan ini adalah manajemen artis yang kugarap sendiri.

Krunya masih pekerja paruh waktu di Jogja, kemarin. Tapi dalam perjalanannya, aku menjadikan S.O.K ini sebagai event planner kecil-kecilan dan pekerja apa saja (Hahaha), seperti merancang pesta ulang tahun, menggarap video dokumentasi, jadi reporter event, sampai ikut bekerja sama dengan para EO festival buku di Jogja.

Karena kulihat ada potensi bisnis, akhirnya aku daftarkan saja S.O.K ini ke badan hukum. Biar aman gitu, hehehe.

Rencana besarnya sih, ya aku pengin mencari nafkah sambil bersenang-senang dengan teman-teman di Kepulauan Riau. Aku sudah merasa cukup saat ini, dengan ilmu dan relasi yang kudapat di Jawa.

Aku punya tanggung jawab moral untuk mengamalkannya ke teman-teman yang bergerak di bidang seni.

Toh, aku juga sempat ikut kelas khusus. Aku makin berapi-api sepulang dari kelas itu. Namanya “Kelas Digital”. Isinya hanya 6 murid, setelah disaring dari 100 orang lebih.

Kelas itu dianggit oleh Puthut EA dan tim.

 

Selama seminggu kami digembleng untuk melek teknologi. Setiap hari kami membahas social media, SEO, bisnis di era digital dan pergerakan pergerakannya. Ya, kalau boleh jujur, aku ingin memindahkan semangat berkesenian dan kreativitas di Jogja ke Batam.
Semoga bisa! Hehe.

Soal “Woks! Store”, ini adalah toko kecilku. Berbasis offline dan online. Aku pengin tetap berjualan buku, cd, dan merchandise. Semuanya indie, lho! Hehe.

Gimana coba? 2 tahun aku kerja di redaksi penerbitan buku. Aku enggak bisa pisah dari 3 hal tersebut. Tujuan lainnya sih, aku pengin mengubah kebiasan orang-orang untuk membajak buku dan lagu di internet, hehe.

 

Terima kasih, Mas Bagus…

 

Terima kasih, Batam.top. Jaya selalu di mana pun!

 

Komentar

komentar