Tangan Dingin M Nur A Nasution di Dunia Pariwisata (3)

 

nurm

M Nur A Nasution

[dropcap size=big]M[/dropcap]alang melintang di dunia pariwisata khususnya perhotelan kini M Nur A Nasution, S.Sos, MPd, CHA menerima tantangan baru mengelola Batam Tourism Polytehnic yang digagas oleh mantan walikota Batam Asman Abnur, yang kini anggota DPR RI.

Ia dipercaya menjadi Direktur di sekolah penghasil tenaga unggul di dunia pelancongan itu. ”Saya tertantang karena diminta membuat program D4 Kuliner. Program ini baru dan pertama di Indonesia,” kata Nur yang dulu juga pernah diminta membuat program D3 Kuliner di Sekolah Tinggi Pariwisata Bali.

BTP ini akan menjadi tempat Nur mewujudkan impiannya. Dia ingin chef masa depan tak hanya jago masak, tapi tahu gizi dari makanan tersebut. Chef juga juga berjiwa entrepreneur.

“Saya akan ciptakan golden boy untuk Indonesia dari BTP,” kata Nur.

Tantanghan ke depan kata Nur lagi, di middle level perhotelan akan butuh S1. Tapi lulusan D4 yang saat ini sedang disiapkan di BTP sudah berani diadu dan bisa masuk ke middle level.

 

Baca bagian 1 seri tvlisan ini:

Direktur Batam Tourism Polytechnic ini Pernah Ditantang dan Berhasil Mengubah Kafe Gay di Bali

 

“Karena selama belajar di sini mereka sudah tertempa. Delapan puluh persen ilmu praktek yang diberikan BTP untuk mahasiswa D4,” papar M Nur.

BTP berkembang jauh melampaui harapan. Misalnya, sudah ada agen Cruise Land (agen kapal pesiar) terbesar di dunia yang datang menemuinya.

“Mereka akan buat kerjasama dgn BTP. Ini surprise banget. Karena mereka belum pernah mendatangi Batam. Dengan kerjasama ini nantinya mau naik kapal pesiar cukup lewat BTP. Dan akan memberi gaji anak-anak BTP yang training di kapal antara 1500-2000 USD,” kata Nur lagi.

Satu lagi program terbaru yang juga dibuat Nur adalah Profesional Certification. Dengan sertifikat ini sudah bisa bekerja. Bahkan siapapun tanpa batas umur bisa kuliah.

 

Baca bagian 2 seri tulisan ini:

Direktur Batam Tourism Polytechnic ini Spesialis Menyelamatkan Hotel yang Nyaris Bangkrut

 

“Mau jadi chef bergaji 10 ribu dollar? Mulailah dari sekolah seperti BTP. Tidak hanya dari pengalaman saja, tapi dengan belajar,” kata Nur.

Nur pun menceritakan perjalanan karirnya dari seorang chef dan kini Direktur BTP Batam.

“Saya lulusan sekolah Tinggi Pariwisata Bali. Waktu itu saya diminta kembali ke kampus, untuk membuka jurusan D3. Padahal saya sudah di posisi eksekutif chef di hotel di Kalimantan. Dan mesti menjadi dosen, dengan gaji lebih rendah dari sebelumnya. Sempat galau juga. Tapi calon istri, keluarga setuju saya kembali ke Bali. Nyaris 99.9 persen setuju. Akhirnya saya pun menjadi dosen dan menjabat Pembantu Ketua STP Nusa Dua Bali,” kenang Nur.

Dulu, kata Nur, sangat jarang chef mau jadi dosen, lebih baik kerja di hotel dengan gaji yang besar.

“Di usia 21 tahun saja, saya sudah bergaji besar. Dengan hanya tanda tangan saya sudah bisa dapat semua fasilitas hotel dengan gratis. Nah, tiba-tiba saya mesti balik jadi kere lagi. Tapi ya sudah lah, saya putuskan ke Bali,” tutur Nur.

Saat mulai membuat kurikulum D3, Nur mengkombinasikan ilmu D2 dan pengalaman kerjanya.
Dan hasilnya, lulusan D3 STP Nusa Dua Bali cepat naik posisi menjadi chef hanya dalam 3-4 tahun bekerja. Bahkan ada lulusan menjadi juara dunia di Chile.

“Saya memang melatih anak-anak berjiwa fighter. Mereka harus lebih baik dari saya,” katanya dengan penuh rasa bangga.

Tak hanya membuat kurikulum D3, Nur juga menjadikan sebuah hotel milik STP Bali.
Prestasinya itu membuat Nur, menjadi dosen Perwira Mandiri mewakili Bali. Ia menjadi jadi couch entrepreneur. Dan dididik selama 1 tahun. Selama itu dia harus mencetak empat pengusaha. Dan berhasil, anak didiknya kini menjadi pengusaha tempat wisata, kuliner dan agen travel.

Dia pun dijuluk Indonesia Sultan of Sate. Karena saat itu ia membuat sate terpanjang

Kalau dihitung, kata Nur, anak didiknya sudah ribuan dan ada di seluruh dunia. Nur sempat menceritakan kenangannya saat ke Italia. Ia pernah membuat Indonesian Night Buffet. Dia pun dijuluk Indonesia Sultan of Sate. Karena saat itu ia membuat sate terpanjang. Lalu Nur juga pernah membuat patung Burung Garuda dari mentega di Adelaide tahun 1990.

Nur juga pernah ke Korea, memperkenalkan masakan Indonesia. Dan hasilnya membawa orang Korea belajar ke Indonesia. Belum lama ini, enam orang mahasiswa semester 2 bidang kuliner BTP menjadi The Best Training.

“Walau mereka masih berilmu sedikit. Tapi sudah mampu berkompetisi dengan orang Jepang, Korea dan Singapura. Saya punya visi, akan mengirimkan lebih banyak mahasiswa bidang kuliner. Dan membawa masakan Indonesia ke seluruh dunia. Saya juga akan buat kurikulum Global Indonesian Food,” kata Nur.

Nur juga ingin menjadikan Batam seperti Bali. Menurut Nur, butuh pelestarian budaya sejak anak-anak. Ajarkan anak-anak tarian daerah. Mulai saja dari Kecamatan.

“Melayu and beyond. Budaya Melayu bersama budaya daerah lainnya. Batam memiliki banyak kebudayaan. Pendatangnya dari semua suku. Kita bisa buat pagelaran di Engku Putri. Ini menjadi daya tarik bagi wisatawan,” kata M Nur.

 

Agnes Damayanti – www.b-niaga.com 

Komentar

komentar