[dropcap size=big]S[/dropcap]astra mengarifkan dan meluaskan wawasannya. Bisnis membuatnya jeli melihat peluang dan mahir berkalkulasi. Teater mengajarinya kapan harus mengambil peran dan menguasai panggung.

Maka, kawan dan lawan politik Husnizar Hood harus tahu betul tentang itu.

Pjs Gubernur Kepri Nuryanto dan Husnizar Hood

Pjs Gubernur Kepri Agung Mulyana dan Husnizar Hood

Drama paripurna pengesahan APBD Provinsi Kepri 2016 adalah panggung besar bagi Sekjen Partai Demokrat Kepri ini. Baru saja ia menjabat wakil ketua DPRD, ia sudah menjadi aktor penting dalam drama itu. Duduk sendirian di kursi pimpinan dewan, mendampingi Pjs. Gubernur Kepri, ia mengetuk palu pengesahan dan ia pun menjadi “Pahlawan APBD”.

Desember 2015, waktu itu, jika RAPBD tidak disahkan, Kepri bakal tak dapat kucuran dana dari pusat. Sementar konstelasi politik lokal waktu itu sedang memanas terkait pemilihan Gubernur.

Husnizar, satu-satunya unsur pimpinan DPRD Kepri yang menetap di ibukota provinsi, yang lain tinggal di Batam semua, merasa bertanggung jawab untuk mengesahkan APBD itu. AD/ART dan tata tertib sidang ia pelajari. Lobi-lobi sudah ia jalankan. Husnizar pun sampai pada kesimpulan tak ada yang salah kalau ia sahkan RAPBD yang sesungguhnya sudah disepakati semua fraksi dalam rangkaian sidang sebelumnya.

“Ini persoalan tanggung jawab sebagai wakil rakyat yang kerjanya melayani rakyat. Artinya, kepentingan rakyat harus didahulukan,” kata adik kandung tokoh pembentukan Provinsi Kepri Huzrin Hood ini.

Husnizar menyebut, mengesahkan  RAPBD menjadi APBD  itu merupakan agenda yang sudah disepakti seluruh fraksi di DPRD Provinsi Kepri.  ”Tidak ada lagi alasan untuk tidak mengesahkannya,” ujar penulis Kolom Temberang setiap Ahad di koran  Batam Pos ini.

Pjs Gubernur Kepri Agung Mulyana saat itu mengatakan, bahwa ia tidak tahu lagi, apa yang dijadikan alasan, sehingga ketua dan dua wakil ketua, beserta anggota dewan, tidak mau mensahkan  APBD Kepri 2016 itu. Semua sudah dilewati.

“APBD ini untuk masyarakat Kepri bukan untuk saya, kalau saya tinggal menghitung hari,” katanya saat itu.

Makanya, apapun resikonya, jika berkaitan dengan kepentingan hajat hidup orang banyak,  bagi  Husnizar,  itu merupakan sebuah keniscayaan dalam politik. “Tak perlu ada yang ditakutkan dalam menjalankan tugas, jika sudah benar dan sesuai aturan, jalankan!” tegas penyuka Captain America yang dikaruniai tiga anak dara ini.

Bagi Husnizar, seorang politikus harus dapat membedakan, kapan ia bersikap sebagai petugas partai dan kapan ia mengabdi sebagai wakil rakyat. Sehingga, tidak semua persoalan harus dilihat secara politik. Tapi bagaimana sebuah masalah itu dilihat; sejauh mana untuk kepentingan hajat hidup orang banyak.

Panggung-panggung di pusat kesenian di negeri ini rasanya tak ada yang belum pernah menghadirkan diri, baik untuk membaca puisi dan main teater.  Kini panggung politik menyita sebagian besar waktnya, peran sebagai politsi ia jalani dengan kiprah yang kian memukau.

Masih sempat berkesenian, Bang? “Masihlah. Harus sempat. Hidup ini perlu keseimbangan,” ujarnya.

 

Hendrik A Rahman untuk Batam.Top

Komentar

komentar