Tangan Dingin M Nur A Nasution di Dunia Pariwisata (1)

 
[dropcap size=big]S[/dropcap]ebuah kafe di Bali berkembang ke arah yang tak diinginkan oleh pemiliknya. Kafe itu secara bisnis memang berhasil, pengunjung selalu penuh – banyak di antaranya adalah selebritis pria yang wajahnya kerap muncul di televisi Indonesia.

Kafe tersebut menjadi tempat berkumpulnya kaum gay dan kelompok LGBT lainnya di Bali.

“Oleh pemilik kafe itu saya diminta mengelola dan mengubah kafe gay ini jadi kafe publik, kafe yang bersih,” kenang Direktur Batam Tourism Polytechnic (BTP) M Nur A Nasution, S Sos, M PD, CHA.

M Nur menerima tantangan itu. Ia kasihan pada keluarga karyawan-karyawan itu. Mereka orang-orang dengan perilaku seksual normal yang rentan terpengaruh.

“Pengaruh gay ini sangat kuat. Banyak karyawan laki-laki, suami-suami yang tadinya normal bisa jadi gay, yang perempuan pun jadi lesbian,” kata M Nur.

Apa yang ia lakukan? “Pertama saya kumpulkan semua karyawan. Saya bilang akan mengubah kafe ini menadi bersih dari LGBT. Beberapa karyawan yang memang sudah terpengaruh dan menjadi LGBT memilih berhenti bekerja,” kata M Nur.

Nur mengamati, biasanya lagu yang diputar di kafe gay itu lagu-lagu sendu.

“Nah, sejak saya yang mengelola, saya ubah menjadi lagu rock. Saya undang wisatawan Australia. Lalu sebar flyer. Dan hasilnya kelihatan. banyak wisatawan Australia datang. Setiap malamnya penjualan bisa mencapai Rp15 juta,” ujar M Nur.

Itulah salah satu terobosan gila yang pernah dilakukan Nur. Ia berkali-kali diancam oleh pelanggan kafe. Karena mereka kehilangan tempat nongkrong. Tapi ia tak pantang mundur. Ia teruskan niatnya. Dan ia berhasil. “Kini kafe itu menjadi kafe teramai di Bali,” papar M Nur. (bersambung)

Baca Bagian 2 seri artikel ini:

Direktur Batam Tourism Polytechnic ini Spesialis Menyelamatkan Hotel yang Nyaris Bangkrut

Agnes Damayanti / bniaga / batampos.co.id

Komentar

komentar