[dropcap size=big]A[/dropcap]rtikel utama sepanjang enam halaman di Rolling Stone Indonesia itu tentu saja tak cukup untuk disarikan dengan tulisan pendek ini. Ya, ini tentang Joey Alexander, anak 12 tahun kelahiran Bali itu menciptakan langkah besar di panggung musik dunia: album musiknya mendapat dua kategori di Grammy Award 2016. Tak menang memang, tapi ia telah membuat Indonesia bangga.

Joey Alexander di Sampul Rolling Stone Indonesia

Joey Alexander di Sampul Rolling Stone Indonesia

Ada orangtua (Denny Sila dan Farah Urbach) yang luar biasa besar pengorbanannya di balik keberhasilan Joey. Juga ada Indra Lesmana, musisi yang tahu betul bagaimana menggali bakat anak ajaib itu, dan membuka jalan bagi Joey untuk mendunia

Hiperaktif. Joey Alexander adalah anak yang hiperaktif. Itu bisa dilihat sebagai masalah. Merepotkan. Bisa juga dianggap sebagai sumber energi yang berlimpah. Orang tuanya melihat itu sebagai poteni yang harus disalurkan.

Musik. Orang tua Joey Alexander adalah pasangan yang musikal. Ayahnya mengoleksi CD musik – yang nanti menjadi referensi penting bagi Joey.

Bakat besar. Pada usia enam tahun Joey diperkenalkan pada piano, setelah ia dipastikan memang menyimpan tidak hanya bakat besar dalam bermusik tapi memiliki sensitivitas pendengaran yang luar biasa.

Temukan guru yang tepat. Demi mengembangkan bakat Joey, orangtuanya pindah ke Jakarta, meninggalkan rumah dan bisnis di Bali. Di Jakarta Joey belajar pada orang yang tepat: musisi Indra Lesmana. Terhadap Joey, Indralah yang menyesuiakan diri, mencari metode mengajar khusus bagi murid jeniusnya yang tak suka membaca not itu.

Tampil. Joey diberi banyak kesempatan tampil di kafe jazz yang dikelola Indra Lesmana. Dari sana kemampuan Joey makin teruji, berkembang pesat, dan diapresiasi oleh orang yang memang mengerti musik. Joey makin yakin dengan bakatnya.

Beri jalan. Indra Lesmana membuka pintu kesempatan yang lebih besar dengan mengirimkan rekaman video penampilan Joey kepada temannya di Amerika. Dari situ Joey diundang tampil di sebuah gala musik di Lincoln Center, New York.

Momentum. Tampil di Jazz at Lincoln Center, selama tujuh menit, adalah titik yang mengubah hidup dan karir Joey. Ia mendapatkan standing applaus, tidak hanya dari penonton, tapi juga dari seluruh pemain orkestra yang mengiringinya! Dan segalanya berubah.

Hijrah kedua. Orang tua Joey pun memutuskan  untuk menjual segalanya di Jakarta untuk hijrah ke New York demi pendidikan dan karir bermusik Joey. Setelah menetap di kota berjuluk Apel Besar ini, kesempatan memang datang mengalir. Joey bertemu orang yang tepat, musisi-musisi jazz yang ia kagumi dan mengagumi bakatnya, merekam album yang  mengantarkannya ke nominasi dan panggung Grammy Award.

Tetap bersekolah. Joey menjalani pendidikan lewat home schooling. Ia mengerjakan PR di sela-sela latihan rutinnya, minimal tiga jam sehari. Indra Lesmana berharap Joey menempuh pendidikan resmi bermusik. Lima tahun lagi, kata Indra, dia remaja 17 tahun, bukan anak ajaib lagi. Dia akan bersaing dengan banyak musisi hebat. Tanpa kerja keras bakat besarnya bisa tenggelam.

 

Joey Alexander saat tampil di forum TED.

 

Disarikan dari Rolling Stone Indonesia.  Foto utama dari TED.

 

Komentar

komentar