SEMPAT sekarat, Makyong kini mulai bangkit. Seniman-seniman uzur tak ingin Makyong hilang dari bumi Kepri.

Sebuah panggung tampak mencolok di banding bangunan di sekitarnya di Pulau Panjang Barat. Catnya masih baru. Berwarna kuning terang dan putih. Ukurannya 5×5 meter. Berlantai beton dan ditutupi tegel berwarna putih. Enam tiang bercat kuning menyangga atap seng yang berwarna biru. Sisi kiri dan kanan diberi pagar, sementara seperempat bagian belakang panggung dipasangi dinding kayu sebagai gudang.

Bagian depan panggung dipasangi jaring supaya kambing tidak menorobos masuk. “Maklum, sekarang lebih banyak kambing di pulau ini daripada penduduknya,” ujar seorang warga yang mengantar Majalah Batam Pos ke rumah sanak saudara pelestari Makyong di pulau itu, Selasa pekan lalu.

Normah

Normah

Di pojok kanan terdapat kursi berwarna hitam tanpa jok. Di atasnya, di dinding panggung, terpasang spanduk. Ujungnya menjuntai karena terpasang tak sempurna. Setelah dibentangkan, terbaca sempurna tulisan, Selamat Datang di Perkampungan Sejarah Budayawan Melayu Kota Batam Pulau Panjang – Sanggar Warisan Budaya Melayu Pantai Basri “Lima Saudara”.

Panggung itu sepi, Selasa (2/6) siang lalu. Hanya ada seorang wanita sedang membuat pukat untuk menjaring ikan. Tidak lama perempuan berwajah legam dan berkerut termakan usia itu meninggalkan panggung dan membiarkan pukat yang sedang dibuat. Setelah itu, tidak ada aktivitas sama sekali di panggung itu. Senyap.

Tidak jauh dari panggung, seorang gadis remaja bermain-main bersama teman sebayanya. Dia datang mendekat ke panggung setelah diajak. Gadis itu adalah salah satu cucu Normah, seniman Makyong di Pulau Panjang, Batam. Namanya Indah Sari, 14. Ia juga pemain Makyong. Perannya sebagai dayang.

“Kami tak latihan. Hanya kadang-kadang saja kalau sudah mau pentas,” kata siswa kelas VIII SMP 14 Batam ini.

Panggung itu baru saja direnovasi tahun lalu setelah mendapat bantuan dari perusahaan swasta di Batam. Sebelumnya, panggung yang berada di samping rumah Normah, terbuat dari kayu. Selama puluhan tahun, panggung itu menjadi saksi pasang-surut Makyong dan usaha keras Normah serta anak-anaknya menjaga Makyong agar tetap eksis.

Dorani Basri, 49, anak pertama pasangan Basri dan Normah yang kini memimpin teater tradisional Melayu itu. Di bawah naungan Sanggar Warisan Budaya Melayu Pantai Basri Lima Bersaudara. Lima bersaudara itu adalah anak-anak Basri dan Normah. Selain Dorani, empat anaknya yang lain adalah Abdullah Basri, Andani Basri, Zamri Basir, dan Zulkifli Basri. Dua tahun belakangan Dorani menggiatkan kembali teater Makyong setelah sempat sekarat. Ia berusaha meregenerasi pemain Makyong.

Dorani mendirikan sanggar itu tahun 2001. Ia mengumpulkan anak-anak, keponakan, dan anak-anak kerabatnya di Pulau Panjang untuk ikut bermain Makyong. Tapi tidak semua anak-anak Dorani mau berkesenian. Sebagian ikut bermain setelah diajak. Indah Sari, keponakannya, salah satunya yang diajak. Saat umur tujuh tahun, putri Andani Basri ini sudah bermain dalam Makyong. Peran pertamanya sebagai penari.

“Ceritanya berjudul Ikan Keke, tentang gadis desa yang memancing ikan keke,” ungkap Indah sambil tersenyum.

Dina, 14, dan Siti Ramona, 12, dua remaja lainnya yang ikut bermain Makyong karena tanpa sengaja. Dina yang saat berumur 8 tahun dan Siti Ramona berumur 6 tahun, awalnya  ‘terpaksa’ berperan dalam Makyong. Saat itu pemain kurang. “Awalnya sulit. Kalau salah dimarah,” kata Siti Ramona.

Ada 20-an anak-anak dan remaja yang bergabung di sanggar itu. Mereka dilatih berlakon, menari, dan menyanyi. Sesuai peran masing-masing. Mereka latihan di Pulau Panjang dan Dendang Melayu, plaza Jembatan I Barelang. Pemain yang sebagian besar tinggal di Pulau Panjang, harus menyewa perahu pancung bila latihan di Dendang Melayu. Mereka membayar ongkos sendiri. Mereka hanya berlatih tiga atau empat hari sebelum pentas bila ada permintaan tampil. Sebab, ongkosnya berat. Biaya pancung Rp 35 ribu sekali jalan per orang. Pulang pergi Rp 70 ribu.

“Latihan itu hanya untuk mengingat-ingat lakon dan cerita saja,” kata Dorani.

Pemeran utama, Cek Wang atau Raja yang paling sulit. Dorani menyebutkan, mencari pemeran utama ini gampang-gampang susah. Sebabnya, pemeran Cek Wang harus memiliki kemampuan berlakon, menyanyi, dan menari sekaligus.

“Pemeran utama ini harus punya alunan suara. Sebab, sebelum berlakon ada bernyanyi dan bercerita dengan lagu,” jelasnya.

Sebagai penerus Normah, Dorani melatih khusus dua remaja untuk menjadi Cek Wang atau Raja. Dua remaja itu, Idawati dan Putri Pertiwi. Keduanya bersekolah di SMA 18 Batam. Idawati bisa berlakon dan menari, tetapi belum bisa bernyanyi. Sedangkan Putri Pertiwi bisa berlakon dan bernyanyi, tetapi tidak bisa menari.

“Jadi waktu tampil untuk acara ulang tahun sanggar baru-baru ini, Idawati yang jadi Raja, tapi mak (Normah) yang nyanyi di belakang,” kata Dorani saat ditemui di rumahnya, Jumat (5/6).

Generasi baru ini belum bisa mendekati bahkan menyamai kemampuan Normah. Sementara Normah, selama dua tahun terakhir ini sangat jarang tampil lagi. Ia hanya sekali pentas tahun 2013 pada Festival Tamadun Melayu I di Tanjungpinang. Kemudian tahun 2014, Normah naik panggung saat penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional di Batam.

Karena undangan tampil sangat jarang, Normah maupun Dorani berjualan jagung bakar, camilan, dan minuman di kios mereka di Jembatan I Barelang. Kios Normah terletak di sisi jalan masuk plaza Dendang Melayu. Sementara kios Dorani, tepat di ujung jembatan. Kiosnya beratap asbes dan berdinding triplek bekas. Minuman dan camilan yang dijual dipajang di rak-rak yang terbuat dari papan. Sebagian minuman disimpang dalam kotak pendingin. Di bagian depan kios diletakkan pembakaran jagung.

Selasa (2/6) pekan lalu, kios itu ramai didatangi turis Jembatan I Barelang. Tetapi kios Normah, hanya dijaga anak perempuan satu-satunya, Rubiah. Normah, kata Rubiah, sedang di rumah sakit menjaga adiknya yang sakit. Di kios milik Dorani, Susi, anaknya yang berjualan.

“Kami berjualan kalau hari-hari libur karena banyak pengunjung. Ramai yang beli,” kata Susi yang sempat sekali bermain Makyong.

Makyong sudah mendarah daging dalam keluarga Normah. Itu diyakini Dorani. Meski demikian, Dorani berharap Makyong tidak hanya dilestarikan keluarga besarnya. Tetapi pemerintah juga memberi perhatian pada Makyong. Teater tradisional Melayu itu bisa dikenal luas lagi dengan mengajarkannya di sekolah-sekolah.

“Saya punya cita-cita Makyong berkembang lagi. Kemudian ada festival Makyong dan diajarkan di sekolah. Setidaknya 50 persen anak sekolah kenal Makyong,” tuturnya penuh harapan.

***

Dorani mewarisi Sanggar Warisan Budaya Melayu Pantai Basri setelah ayahnya meninggal tahun 2000. Padahal, awalnya Dorani menolak. Sejak remaja, ia tak mau berkesenian karena menurutnya masa depannya yang tak jelas. Ia memilih berdagang, berjualan bensin, membuka kios kecil di rumahnya. Ia juga jualan jagung di Jembatan I Barelang. Sejak tahun 1999-2000, Makyong sempat vakum. Namun ia tersentak saat ayahnya meninggal, banyak pejabat yang datang melayat.

“Jadi saya melihat, bapak (Basri) dihargai karena jasanya (dalam berkesenian). Bukan karena materi. Saya pun bangkit dan semangat,” ungkap Dorani.

Meski masih sedih ditinggal ayahnya, Dorani belajar memainkan biola. Hanya biola yang bisa ia gunakan saat itu sebab alat musik lainnya sudah rusak. Selama 40 hari, ia mengurung diri di kamar dan giat belajar secara otodidak.

Normah yang mendengar suara ngik-nguk biola menghampiri dan terkenang dengan suaminya. Air mata Normah selalu menetes saat mengenang suaminya. Lagu-lagu yang sering ia bawakan saat manggung bersama suaminya semasa masih hidup sering ia dendangkan. Normah bersama suaminya memang sama-sama serius berkesenian.

Kesedihan Normah perlahan terobati ketika melihat putranya, Dorani mulai serius berlatih main biola. Ia terus menyemangati anaknya itu agar kemampuan main biolanya menyamai ayahnya. Tujuannya, supaya bisa meneruskan Makyong. Normah pun selalu meluangkan waktu bernyanyi dan Dorani mengikuti nada lagu. Ia latihan sampai benar-benar bisa.

Sembari belajar, ia memperbaiki alat-alat musik yang masih bisa diperbaiki. Lalu adik-adiknya ia ajarkan memainkan alat musik lainnya seperti rebab dan gendang. Kemampuan memainkan alat musik semakin terasa setelah mengikuti workshop Makyong.

Mereka sesekali menampilkan Makyong jika ada undangan tampil di acara pernikahan atau mengikuti festival. Salah satunya, mereka tampil di festival Makyong di Pekanbaru. Pemain utamanya Normah sebagai Raja, Zamri berperan sebagai Awang. Pemain lainnya adalah cucu-cucu Normah. “Mak (Normah) lah yang paling tua waktu itu,” katanya.

Menurut Dorani, peminat Makyong sebenarnya masih ada, terutama di pulau-pulau atau daerah hinterland. Hanya saja, biayanya yang besar sehingga sangat jarang yang mengundang tampil di acara hajatan. Paling tidak Rp 5 juta atau Rp 10 juta. Sebab, sekali tampil, mereka sedikitnya membawa 20 orang pemain, termasuk pemusik. Biayanya besar karena perlu biaya operasional, biaya kostum, dan perbaikan alat musik. Pembuatan topeng untuk beberapa karakter juga memerlukan biaya. Hingga kini, Dorani telah membuat 40 topeng.

Untuk hajatan seperti acara pernikahan, terakhir mereka menampilkan Makyong tahun 2012 silam. Kala itu mereka diundang di pesta pernikahan anak ketua organisasi nelayan di Pulau Setokok, Batam. Penontonnya ramai.

“Dari acara itu, dapatlah pemain-pemain Rp 100 ribu perorang,” ujarnya.

Selama itu, Normah masih tetap menjadi andalan sebagai pemeran utama. Saat peran Awang beralih ke adik bungsunya, Zulkifli, lalu ke keponakannya, peran Cek Wang atau Raja tetap dimainkan Normah.

***

Normah adalah seniman teater tradisional Makyong dari Pulau Panjang, Batam Kepulauan Riau. Ibu enam anak kelahiran 65 tahun lalu ini adalah salah satu seniman Makyong yang berada di Pulau Panjang, Batam, Kepulauan Riau. Ia satu-satunya penyanyi, pelakon, sekaligus penari Makyong, yang dipunyai Batam hingga kini. Belum ada orang lain di Batam yang bisa menyamai kemampuannya. Bahkan anak-anak dan cucunya belum ada yang mendekati kemampuannya.

“Pemain Makyong itu, harus bisa berlakon, menyanyi, dan menari,” ujar Normah.

Kemampuan Normah lainnya adalah menghafal cerita dalam Makyong. Tidak ada catatan tertulis tentang naskah cerita Makyong. Semuanya hanya ada dalam ingatan Normah yang terhimpun dari tahun-tahun pentas rutin selama beberapa dekade. Cerita-cerita dalam pentas Makyong hanya ditularkan secara lisan. Namun belum semua cerita itu ditularkan kepada anak cucunya. Ia kini menjadi benteng terakhir Makyong di Batam.

Normah sudah bermain Makyong sejak tahun 1970. Kala umurnya baru 18 tahun. Saat itu ia kebagian peran sebagai dayang. Peran Raja, tokoh utama dalam opera ong, diperankan Mak Mumun. Basri yang mahir menggesek biola, salah satu pengiring musik di opera itu.

Setelah Mak Mumun meninggal, peran Raja beralih ke tangan Normah. Basri bermain sebagai Awang, tokoh kedua dalam opera itu. Bersama Basri, suaminya, Normah sering berkeliling untuk tampil kebolehan Makyong. Dari satu pulau ke pulau lain mereka tampil. Perjalanan dari pentas ke pentas kerap mereka tempuh dengan perahu dayung dengan membawa puluhan pemain. Bahkan mereka pentas ke berbagai daerah di Indonesia hingga keluar negeri.

Saat itu, Makyong sedang jaya-jayanya. Ramai yang mengundang untuk tampil di hajatan. Basri dan Normah bersama rombongannya biasanya dua malam di satu pulau, lalu pindah lagi ke pulau lainnya. Sampai tahun 80-an, undangan tampil masih ramai. Basri dan Normah sering mewakili Batam tampil di acara-acara seni dan festival. Mereka tampil di Pekanbaru, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan kota lain. Sesekali mereka diundang ke Malaka, Malaysia.

Tetapi setelah itu, perlahan-lahan surut. Tergantikan oleh hiburan lainnya yang terbilang baru bagi warga pulau kala itu. “Masa itu (akhir tahun 80-an) mulai masuk hiburan band dari Medan. Tapi mak masih tetap bertahan,” katanya.

Gempuran hiburan band semakin menjadi-jadi dan Makyong kelompok Basri dan Normah terpinggirkan. Mereka hanya sesekali tampil. Pada tahun 90-an, mereka kembali bangkit. Perhatian pemerintah dan seringnya festival atau parade kesenian tradisional membuat mereka hidup lagi.

“Tahun 1997 dan tahun 1998 itu ramai festival. Makyong kami sering juara,” ungkapnya.

Dorani menyebut ayahnya, Basri, dan ibunya, Normah, orang yang total berkesenian. Keduanya tak pernah menolak undangan tampil. Berapapun bayarannya, Basri dan Normah pasti datang. Bahkan Basri pernah berangkat untuk pentas meski sedang diinfus.

Pulau di selatan Batam tempat ia tinggal, dijadikannya sebagai tempat berlatih sebelum pentas. Pulau itu masuk wilayah Kelurahan Setokok, Kecamatan Bulang. Pulau itu bisa dicapai dengan perahu pancung dari Jembatan II Barelang selama 15 menit.

Saat air pasang, pulau itu terbagi menjadi dua. Pulau Panjang Barat dan Pulau Panjang Timur. Basri dan Normah tinggal di Pulau Panjang Barat yang bentuknya lebih memanjang dari Pulau Panjang Timur. Penduduk di pulau ini rata-rata nelayan.

Ada fasilitas pendidikan. SD Negeri 009 Bulang dan SMP Negeri 14 Batam. Selain itu ada masjid dan lapangan bola yang tandus. Masjid dan lapangan bola ini, terletak di belakang rumah Normah dan panggung tempat mereka latihan.

Di panggung yang sederhana itu, mereka berlatih menghafal dialog, lagu, dan tarian. Semua naskah dan lagu dalam pentas Makyong ia pelajari sambil menjadi pelakon dan penari. Basri menjadi guru sekaligus rekan pentasnya. Beberapa seniman lain kala itu juga mengajarkan secara lisan. Sehingga tidak heran jika di kelompok Makyong Batam, ia menjadi satu-satunya orang yang bisa menjadi pelakon, penyanyi, dan penari, menjadi raja sekaligus dayang.

Sekali tampil, biasanya mereka membawakan dua atau tiga cerita tradisional Melayu. Lagu bisa dinyanyikan dalam enam menit, dialog yang berisi lebih 20 kalimat, serta tarian dengan beragam gerakan dalam pentas Makyong semua dihafal oleh Normah.

Dari beberapa penampilannya di festival kesenian Basri dan Normah mendapat penghargaan. Ada sekitar sebelas penghargaan. Sejumlah piagam penghargaan disimpan oleh Dorani, 42, di Pulau Panjang. Piagam-piagam itu dilapisi plastik. Disimpan di koper tua milik Basri.

Selain tampil di panggung, Basri dan Normah juga melatih siswa dan orang-orang yang berminat belajar kesenian Melayu. Seorang gadis asal Jerman, pernah tiba-tiba datang ke rumahnya untuk belajar tari Melayu. Gadis bernama Brigitte itu rajin datang latihan bahkan hingga menginap beberapa hari. Ketika hendak kembali ke Jerman, Brigitte ingin membawa Normah untuk tampil di sana. Namun Normah berat meninggalkan Pulau Panjang.

Di lain hari, penyanyi senior Trie Utama datang ke Pulau Panjang untuk belajar menari. Meski hanya sehari, juara The Golden Stag Festival di Rumania itu tetap mengingat Normah. Ia bahkan menyebut Normah sebagai guru tarinya dan menemui Normah saat tampil di Jakarta. Normah pun menjadi bersemangat.

Namun Basri meninggal awal tahun 2000 silam. Sejak suaminya wafat, Normah kembali jarang naik panggung. Ia hanya sesekali tampil untuk menjaga Makyong. Lewat Makyong pula, ia juga mencoba menghidupkan kembali kenangan bersama mendiang suaminya.

Meski tak sering lagi naik panggung, ia ingat hampir semua lagu, adegan, dan dialog dalam Makyong yang antara lain, Puteri Siput Gondang, Kijang Emas Tanduk Kencana, Sang Raja Nyaya, Raja Berna Sakti, Raja Sang Kiwi, dan Putri Timun Muda.

Normah total berkesenian. Totalitas Normah mendapat ganjaran penghargaan dari Pemerintah Kota Batam. Tahun 2011, ia mendapatkan Anugerah Batam Madani sebagai tokoh yang berjasa di bidang Seni Budaya. Di ulang tahun Kota Batam ke-182, Wali Kota Batam menyematkan pin emas ke dada Normah.

***

Makyong merupakan salah satu kesenian klasik Melayu yang sangat lengkap. Di dalamnya terdapat berbagai tarian, nyanyian, lakon, pantun, dan musik. Pemain Makyong terdiri dari beberapa peran, yaitu awang dan inang pengasuh (sebagai pesuruh raja), mamak (rakyat), Pakyong (raja), Wak Perambun (panglima), dayang, dan beberapa karakter hewan. Pertunjukan dimulai dengan upacara ritual yang dilakukan oleh bomoh (pembaca mantra). Setelah acara ritual selesai, bomoh membuka upacara ‘buka tanah’, minta izin kepada leluhur.

Setiap kali pentas, teater rakyat itu dibuka dengan musik dan dilanjutkan dengan lagu yang lebih menyerupai mantra. Selepas lagu disampaikan, sambil menari lebih dari 15 menit, barulah dialog dimulai. Dalam dialog, para pemain kerap berbalas pantun. Pada akhir pertunjukan, bomoh mengakhirinya dengan ritual ‘tutup panggung’.

Pementasan Makyong tidak menuntut set properti, dekorasi, atau layar untuk pergantian babak. Bila Makyong dipentaskan di lapangan terbuka, tempat pentas harus diberi atap yang menggunakan bubungan dengan enam tiang penyangga. Pada kayu yang melintang dihiasi daun kelapa muda. Bila dimainkan di istana, Makyong dipentaskan di panggung beton berbentuk segi enam.

Ada berbagai pendapat mengenai asal usul Makyong di Kepulauan Riau. Antara lain pendapat hasil rumusan Diskusi Teater Tradisional yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta bersama Direktorat Pembinaan Kesenian pada tanggal 13 Desember 1975. Dari pendapat itu tidak dapat diketahui dengan pasti kapan Makyong sampai ke Kepualuan Riau. Sebab Makyong berkembang menurut situasi dan kondisi setempat, dan akhirnya menjadi sebuah pertunjukan yang mendarah daging bagi penduduk setempat.

Sumber lainnya mengemukakan bahwa Makyong sudah sampai ke Malaka dan Siak pada tahun 1920. Padahal berdasarkanketerangan yang dikemukakan orang-orang tua di Mantang (tempat teater ini berkembang pesat di Kepulauan Riau) disimpulkan bahwa Makyong telah ada di Riau lebih dari seabad yang lalu.

Menurut Sejarawan Kepri, Aswandi, kisah Makyong bermula pada 1780. Kala itu dua pemuda asal Mantang, Encik Awang Keladi dan Encik Awang Durte pergi ke Kelantan untuk mencari jodoh. Takdir mempertemukan jodoh mereka dengan gadis Kelantan. Setelah menikahi gadis Kelantan, mereka menetap di Pulau Tekong, perbatasan Johor dengan Singapura. Mereka bercerita kepada penduduk bahwa ada kesenian Makyong di Kelantan. Penduduk Pulau Tekong yang tertarik kemudian sepakat belajar Makyong ke Kelantan pada 1781.

Namun setelah belajar, mereka tidak lantas naik pentas. Hampir 10 tahun kemudian, barulah penduduk Pulau Tekong berhasil menggelar pementasan pertama Makyong. Makyong pun mulai berkembang, hingga kabar sampai ke telinga Sultan dari Kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang, Sultan Mahmud Syah III (1757-1811). Ia mengundang pemain Makyong untuk tampil di Pulau Penyengat. Dari titik itulah, Makyong kemudian masuk ke Kepri.

Makyong di Indonesia, khususnya di Kepri, mengalami kejayaannya pada masa keemasan kesultanan Riau-Lingga dan pada masa sekitar tahun 1850-an. Pada masa kejayaannya ini Makyong pernah dianggap sebagai kesenian istana. Hal ini juga dituliskan Aswandi dalam bukunya Makyong, Teater Tradisional Kabupaten Kepulauan Riau, yang diterbitkan atas kerja sama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kepulauan Riau dengan Yayasan Khasanah Melayu tahun 2005.

Pada awal abad 20, di Kepulauan Riau banyak bermunculan kelompok teater rakyat ini. Di Batam dan sekitarnya terdapat di Rempang dan Sembulang yang dipimpin oleh Niah. Dua kelompok di Kasu masing-masing dipimpin oleh Minah Kekap dan Mat Darus. Namun kini hanya tersisa dua kelompok Makyong asli di Kepulauan Riau, yaitu di Batam dan Bintan. Kelompok Makyong di Pulau Bintan nyaris tak pernah tampil karena pemainnya menua, sakit dan sebagian wafat. Sementara di Batam hanya ada kelompok milik Basri dan diwarisi anak cucunya.

Sekarang di Batam dan Bintan, praktisi Makyong merupakan generasi ketiga dan telah ada hampir selama 150 tahun. Mereka terancam punah. Sementara generasi keempat belum ada yang menyamai kemampuan generasi di atasnya.

“Meski tidak mudah mencari penerus karena mereka terus tumbuh besar, sekolah di tempat berbeda, tapi kami akan berusaha keras agar Makyong tidak punah,” ujar Dorani. (Ahmadi Sultan, Batam)

Komentar

komentar